Family Stuff, Write for lyfe

tentang bergaya setelah jadi ibu: “Ain’t nobody got time for that?”

Dahulu kala, ketika lihat feed Instagram dan menemukan ibu-ibu yang tampil kece: dandan lengkap dan baju yang keren, serta aksesoris sana-sini, tentu saja pernah terbersit bahwa saya ingin seperti itu juga setelah punya anak. Saya tidak mau terlihat kucel ketika sudah jadi emak-emak. Namun, satu hal yang tidak saya sadari (kala itu), ibu-ibu yang saya maksud ialah selebritis atau (so called) influencer yang memang punya anggaran khusus untuk tampil paripurna.

Sejujurnya, saya tidak menganggap saya ini perempuan stylish. Orang-orang terdekat saya juga bukan orang yang termasuk tipe sangat memperhatikan penampilan. Jadi, saya cukup cuek untuk urusan bergaya.

Apalagi pas jaman kuliah, hampir setiap hari saya hanya mengenakan kaos dan celana denim ke kampus. Kadang-kadang pakai jaket atau cardigan kalau lagi pengen. Kebebasan berpakaian ini juga, sih, yang jadi salah satu alasan saya memilih jurusan di kampus. Sebab, saya pikir, saya tak mau menghabiskan waktu untuk memikirkan harus pakai apa ke kampus. Saya mengklaim penampilan saya sebagai casual alias semau gw, tak peduli orang bilang apa.

Selama jadi mahasiswa, saya juga belum mengenal kosmetik. Saya ingat, waktu ada tugas berperan sebagai presenter televisi, saya mengerahkan teman-teman kostan untuk mendandani saya. Beruntung, mereka mau meminjamkan alat kosmetik dan bersemangat bikin saya tampil layak di depan kamera.

Saya mengenal kosmetik saat mulai bekerja. Itu juga sederhana sekali, hanya tahu lipstik, bedak, eyeliner, maskara, dan eyeshadow. Waktu itu kayanya belum tren bikin alis yang sempurna, apalagi highlighter yang bikin wajah mengkilap.

Dan sudah bekerja artinya saya menghasilkan uang sendiri. Jadi, menurut saya, wajar lah, mulai memerhatikan penampilan dengan beli sepatu dan baju-baju lucu.

Menurut saya, masa-masa puncak (ceilehhh..) saya ingin tampil kece ialah ketika sudah menikah dan belum punya anak. Jadi, sebelum memutuskan punya anak, ada jarak sekitar dua tahun, saya hanya berdua dengan suami.

Tidak ada tuntutan dari siapa-siapa, sih. Pekerjaan saya sebagai jurnalis juga sebenarnya sangat memungkinkan untuk saya hanya memakai kaos dan celana jins ke kantor. Tapi, saat liputan (terutama di hotel berbintang) atau ada jadwal wawancara dengan petinggi perusahaan, saya usahakan terlihat “pantas”.

Di masa itu, saya cukup keganjringan make up. Hampir setiap hari saya pantengin vlog beauty blogger. Looxperiment juga jadi salah satu andalan saya untuk bereskperimen soal dandan (walau gak pernah berani ikut tantangannya πŸ™ˆ). Kamu tak akan pernah melihat saya tanpa “pakai alis”. Karena bagi saya waktu itu, alis polos merupakan bencana. Saya bahkan pernah mimpi sedih ke luar rumah tanpa sempat membentuk alis. #lebaydotcom

Waktu hamil, kesukaan saya untuk dandan serta tampil kece tetap terpelihara. Untuk pergi ke kolam renang umum saja atau yoga di rumah, saya pakai make up, dong. Apalagi selama hamil, kulit saya terasa on point. Jarang sekali jerawat yang muncul. Hampir tidak ada. Saya pernah lupa cuci muka malam-malam, lalu keesokan hari, tidak ada penampakan jerawat sama sekali atau berhari-hari setelahnya.

Sampai-sampai banyak orang mengira saya mengandung anak perempuan. Kan mitosnya, kalau hamil anak cewek, calon ibu jadi tampak lebih cantik.

Kangen hamil, gak kangen ngurus newborn πŸ˜†

Namun, seperti banyak kisah perempuan yang jadi ibu, nafsu untuk tampil kece menghilang seketika dan otomatis diganti dengan kesibukan mengurus anak bayi. Waktu berdandan berkurang drastis.

Yang tadinya YouTube digunakan untuk menonton turorial make up, berubah jadi “cara memandikan newborn“, “metode penyimpanan ASIP” dan tetek-bengek urusan merawat bayi lainnya. Saya hanya berdandan (bedak dan lipstik doang) saat pergi ke gereja. Ke luar rumah tanpa melukis alis? Oh, saya baik-baik saja dengan hal itu.

Make up tipis tipis daripada dengar bocah rewel menunggu mamanya

Saya mulai bersemangat lagi berdandan saat anak saya bukan bayi lagi alias di atas setahun alias mulai berjalan, jadi frekuensi menggendong sudah sedikit. Artinya, waktu untuk diri saya bertambah walau tidak banyak.

Dari segi berpakaian, sih, belum kembali seperti dulu karena saya mengandalkan baju menyusui untuk bepergian. Walau sudah banyak produsen baju menyusui yang kece, tetap saja, itu bukan benar-benar gaya saya.

Kadang, saya juga ingin, sih, dandan maksimal seperti dulu. #halah Tapi, kok, ya, merasa belum waktunya, ya. Si bocah masih sering cari perhatian saat mamanya dandan. Susah bokkk pasang bulu mata palsu sambil menenangkan anak yang minta gendong atau ditemani bermain. Mungkin nanti ketika anak sudah tidak “nempel” seperti sekarang, saya mau kembali lagi menekuni (apeuuu) dunia perkosmetikan. In the meantime, I’m gonna invest my time in my son’s life as much as I can.

Yang saya kangeni, soal bergaya, seperti sebelum jadi ibu, antara lain:

πŸ’† Melakukan perawatan di salon

Huhu. Ini mah, kangen banget banget. Pengaruh tinggal di kota kecil, juga sih, saya belum punya salon langganan di tempat domisili sekarang. Dulu salon langganan di Bintaro, sudah murah, memuaskan pula pelayanannya. Pernah ada salon dekat komplek rumah sekarang yang bisa lumayan diandalkan untuk potong rambut, tapi setelah beberapa kali ke situ, si Cici bilang dia mau pindah ke Bali 😭

πŸ‘— Pakai dress lucu

Memang, sih, ada yang menjual gaun yang bisa dikenakan untuk menyusui. Tapi, harganya menurut saya tidak sepadan. Saya cuman punya satu, yang dipakai berkali-kali pergi kondangan saat bawa anak. Sementara, saya sudah punya banyak dress yang menganggur di lemari karena tidak bisa dikenakan untuk menyusui.

πŸ’„Dandan lengkap

Kosmetik saya tidak bertambah banyak setelah punya anak. Tapi, pada waktu yang tepat alias kapan-kapan tiada yang tahu, saya kangen belanja alat make up lagi dan mengoleksi lippen dengan warna-warna lucu.

Bersyukur ternyata saya tidak sendirian. Ada mama-mama pencetus #modyarhood yang mengalami hal yang sama. Misalnya @mamamolilo yang, seperti saya, mulai rajin berdandan lagi setelah Lilo berusia setahun. Teh Okke mah, memang kece dan jago dandan dari sejak belum menikah. Eh tapi, @byputy bilang, tidak banyak perubahan berarti dari gayanya, sebelum atau sesudah motherhood. Walaupun Puty bilang gayanya effortless, menurut saya cara berpakaiannya effortlessly chic.

Kalau kamu, merasa gayamu berubah atau tidak, setelah bertitel ibu-ibu? Ceritakan juga, yuk, di kolom komen. Seandainya mau tulis pengalaman serupa di blog pun boleh sekali. Ada hadiahnya, tuh. Jangan lupa cek #modyarhood di Instagram untuk tahu syarat lengkapnya.

Salam sesama ibu! πŸ’‹

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s