Jeju trip (5) : Dari Cheonjiyeon Waterfall Melipir ke Bonmal Cafe di Jeju City

Hola!

Terima kasih sudah membaca serial perjalanan Jeju sampai ke episode ke-5 ini. Tak perlu ditanya sampai episode berapa, ya, karena hanya Tuhan yang tahu. Aku memang menulis ini cukup selow supaya menikmati proses menulis sambil mengenang masa liburan keluarga ke Jeju.

Jadi sejak tiba di Jeju Island, kami langsung menuju Seogwipo yang berjarak sekitar dua jam dari bandara. Nah, kami pilih tempat ini karena memang banyak sekali keindahan alam yang bisa dinikmati. Selain puncak Seongsan Illchulbong yang sudah aku tulis, Seogwipo juga terkenal dengan beberapa air terjun yang dimilikinya. Semuanya masih sangat natural dan menurutku wajib sekali dikunjungi.

Lantaran keterbatasan waktu, kami hanya mengunjungi satu wisata air terjun, yakni Cheonjiyeon Waterfall. Alasan kami, akses menuju air terjun ini lebih mudah diakses dan dari foto-foto yang beredar di internet, kami paling suka air terjun ini. Wisata air terjun lain yang bisa kamu kunjungi ialah Jeongbang Falls, Cheonjeyeon Falls, Eongtto Falls, dan Sojeongbang Falls.

Kami hanya perlu naik bus dari halte dekat hotel kami, Kenny Story Inn, untuk menuju kawasan Cheonjiyeon Waterfall. Nama air terjun di sini, yakni Cheonjiyeon, punya makna “God’s pond” atau kolam Tuhan/dewa. Konon, ada legenda bahwa tujuh peri dari Kerajaan Surga turun dengan tangga awan menuju kolam di sini dan mandi di airnya yang sangat jernih.

Setelah turun dari bus, kami harus berjalan cukup jauh untuk bisa masuk ke area wisata ini. Sepertinya kami turun di halte yang salah karena di tempat ini ada halte bus. Di bagian depan, ada area parkir yang sangat luas untuk bus dan mobil. Selain itu, ada banyak restoran dan toko yang menjual makanan dan minuman. Tentu ada supermarket untuk membeli kebutuhan mendadak.

Kita harus jalan sekitar 550 meter lagi dari pintu masuk untuk melihat air terjun Cheonjiyeon. Bagi penduduk Jeju, tidak ada biaya masuk yang dikenakan untuk datang ke air terjun ini. Sementara itu, untuk bisa masuk, ada biaya KRW 2000 untuk turis dewasa dan KRW 1000 untuk anak-anak (di atas 4 tahun).

Kami menyusuri jalan beraspal yang ditumbuhi pohon-pohon besar sebelum bisa melihat air terjun yang populer itu. Oh iya, rute menuju dan pulang dari air terjun berbeda, ya. Jadi kita bisa mengelilingi area ini dengan pemandangan yang berbeda.

Ada puluhan orang yang sudah sibuk memandangi air terjun dan mengambil foto ketika akhirnya kami tiba di Cheonjiyeon Waterfall. Bocah pun sudah tertidur di stroller. Suara air yang tenang dan kesejukan yang dihadiahkan pepohonan sepertinya jadi peninabobo yang sempurna untuknya.

Aku takjub sekali melihat air terjun setinggi 22 meter itu. Aliran airnya sangat deras. Konon, kedalaman air mencapai 20 meter. Sungguh menggoda untuk turun dan berenang di dalam kolam air. Tapi, tidak diperbolehkan masuk ke dalam air, ya.

Kami tidak berlama-lama di tempat wisata ini karena kami harus pindah hotel dan pindah kota juga. Ya, ini hari terakhir kami di Seogwipo. Menurut itinerary, kami harus naik bus lagi ke Jeju City. Setelah sekitar 30 menit memandangi keanggunan air terjun Cheonjiyeon, kami memutuskan untuk pulang.

Kembali ke Kota Jeju

Di jadwal yang kami buat, kami menghabiskan empat hari di Seogwipo. Lantas tiga hari berikutnya, kami jalan-jalan di Jeju City. Alasannya, kami tidak mau jauh-jauh dari bandara ketika mau pulang ke Indonesia.

Setelah berkemas, kami langsung ke halte setempat untuk naik bus menuju Jeju City. Perjalanan dua jam kami habiskan dengan tidur di bus yang penuh. Penumpang mulai dari anak sekolah sampai pendaki bersilih ganti naik bus yang kami tumpangi. Bahkan banyak juga penumpang yang berdiri di bus. Tapi karena busnya nyaman, jalanan yang rata, serta pemandangan asri sepanjang perjalanan tidak membuat perjalanan membosankan.

Tidak sulit bagi kami menemukan hotel kami di Jeju City. Setelah turun dari bus, kami langsung berjalan menentang koper dan mendorong stroller menuju hotel.

Kami menginap di hotel Jeju yang merupakan hotel kecil dengan bangunan lama. Tapi stafnya sangat ramah. Dia menunjukkan foto anak perempuannya dan senang menyapa si bocah. Bahkan, si oppa juga pengen gendong si bocah, tapi si bocah tidak mau. Hahaha.

Tak mau membuang banyak waktu, kami hanya beristirahat sebentar di hotel lalu mandi. Kami langsung berangkat ke tujuan selanjutnya, yaitu PANTAI.

Ada kejadian yang menyebalkan buatku di perjalanan menuju pantai. Jadi, suami yang in charge untuk tahu rute perjalanan tertidur di bus. Ketika saya bangunkan ternyata halte tujuan kami sudah terlewat. Akhirnya kami turun. Dan menurut suami, pantai tujuan kami tidak jauh lagi jadi kami bisa jalan alias tak perlu naik bus.

Saat itu rasanya kesal sekali karena saya sudah terlalu capek dan kebetulan tidak bawa stroller karena kami pikir akan repot simpan stroller ketika main ke pantai. Dan ternyata, pantai tujuan kami masih sangat jauh dari yang kami prediksi.

Muka kzl karena terpaksa jalan jauh di antah berantah

Kayanya ada deh kami jalan kaki sepanjang 10 kilometer atau bahkan hampir 20 km saat itu. Aku udah hampir menyerah dan minta pulang. Tapi lalu suami mengajak saya ke kafe yang kekinian dekat pantai. Aku yang melihat foto kafenya yang Instagramable, akhirnya luluh dan dengan sisa tenaga yang ada, berjalan ke kafe tersebut.

Untungnya, kafe yang dimaksud suami memang kece banget. Bahkan, kafe ini juga salah satu lokasi syuting drakor “Warm and Cozy” yang dibintangi Kang So Ra dan Yoo Yeon Seok. Maklum saja kalau kafe ini cukup ramai ketika kami datang.

Pengunjung harus memesan setidaknya satu menu sebelum memasuki area kafe. Aku tahu ini karena udah gak sabar mau masuk ketika melihat ada beberapa anjing corgi di area outdoor kafe. Tapi, oppa ganteng menghentikanku dan minta aku membaca papan info yang kira-kira isinya, “Order before get into café.” Baiklah, oppa! Two glass of coffee for me and my husband, please.

Ada beberapa area di kafe Bomnal ini. Area indoor diisi meja dan kursi layaknya kafe biasa. Selain itu, ada toko souvenir juga yang isinya lucu-lucu banget, seperti mug, postcard, dan artsy souvenir lainnya.

Area outdoor di depan merupakan tempat untuk foto dengan corgy yang aku bilang. Nah, di bagian belakang ada area outdoor juga yang membelakangi laut. Oh iya, Bomnal Café berlokasi di Aewol, Jeju. Ada pantai indah di dekat sini. Tak jauh dari Bomnal Café, ada kafe punya si GD alias G-Dragon, yaitu Monsant Café. Memang banyak kafe kece sih di sini.

Wajar saja karena pemandangan pantai dan laut di Aewol memang cukup indah untuk dinikmati dengan segelas kopi dan sepotong kue. Setelah menghabiskan kopi dan kue, serta berfoto-foto, kami harus mengucapkan selamat tinggal dengan Bomnal Café.

Rasa penasaranku nongkrong di kafe Instagramable dekat pantai di Jeju terpuaskan sudah. Jadi waktunya untuk beristirahat dan Kembali ke hotel.

Kami naik bus di atas jam 8 malam. Area pantai masih cukup ramai, tapi ketika kami kembali ke area pemukiman dan pertokoan sudah sepi dan hampir semua tutup.

Sekian untuk episode kali ini. Karena belum puas ke pantai, besok kami mau ke pantai lagi. Nantikan ceritanya, ya!

5 Alasan Kamu Harus Berolahraga di OSBOND Gym

Menjalani gaya hidup sehat bukan lagi sekadar tren. Ini sudah jadi prioritas dan kebutuhan aku dan keluarga. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk menjalani gaya hidup sehat, seperti mengonsumsi makanan dan minuman sehat, beristirahat yang cukup, serta berolahraga.

Beberapa bulan belakangan, aku rutin jalan dan lari pagi di taman komplek apartemen. Soalnya, karena pandemi, berat badanku naik drastic, tapi susah untuk turun. Jadi, aku harus mengeluarkan usaha ekstra untuk menurunkan berat badan.

Well, mengurangi berat badan sudah bukan lagi tujuan utama. Tapi aku merasa dengan menjalani gaya hidup sehat, badanku terasa lebih lean dan sakit-sakit gak perlu seperti pegal-pegal atau cepat capek bukan lagi jadi masalah.

Ada satu hal lagi yang mulai aku jalankan untuk mendukung gaya hidup sehat, yakni berolahraga di gym, tepatnya di OSBOND Gym. Jujur, aku baru tahu tentang OSBOND Gym karena mendapat project dari Clozette Indonesia. Setelah aku melakukan riset, aku excited sekali karena project ini sangat cocok dengan usahaku untuk menjalani gaya hidup sehat.

OSBOND merupakan kepanjangan dari “One Stop Body Needs”. Konsep gym ini adalah satu tempat bisa jadi pusat kebugaran untuk memenuhi kebutuhan badan kamu. Aku puas banget berolahraga di OSBOND Gym dengan banyak alasan yang akan aku paparkan. Menurutku, kamu juga harus mulai olahraga, loh, biar badan lebih fit dan mencegah penyakit muncul di tubuh.

Kamu mungkin bertanya, kenapa harus berolahraga di OSBOND Gym. Oke. Aku jelaskan alasannya seperti berikut.

  • Lokasi yang strategis

OSBOND Gym punya banyak cabang, jadi kamu bisa pilih dengan cabang yang terdekat dengan rumah atau kantor. Sebagai warga Kelapa Gading, aku suka mendatangi OSBOND Gym cabang Cempaka Putih. Jaraknya hanya sekitar 15 menit dari rumahku, jadi tidak akan makan waktu untuk mendatangi tempat ini.

Selain itu, lokasi Gym ini juga dekat dengan area perkantoran. Jadi setelah pulang kantor, kamu bisa berolahraga dulu sebelum pulang ke rumah. Dijamin kamu merasa segar dan bisa menghindari macet juga.

Selain Cempaka Putih, OSBOND Gym punya cabang lain di Jakarta, yakni di Blok M Square, Mall Bassura, Mangga Dua Square, Season City, Mega Bekasi Hypermall, dan One Belpark Mall. Ada juga satu cabang di luar kota, yakni OSBOND Gym Palembang. Semua lokasinya strategis banget, kan. Kamu tinggal pilih cabang yang paling gampang kamu akses.

  • Fasilitas Lengkap

Seperti tagline-nya “One Stop Body Needs”, OSBOND Gym berusaha menyediakan fasilitas yang lengkap. Jadi semua kebutuhan tubuhmu untuk bugar dan sehat tersedia di sini.

Waktu aku datang ke OSBOND Gym Cempaka Putih, aku cukup terkesima sih dengan kelengkapan fasilitasnya. Pertama-tama adalah area parkir yang cukup luas, bisa menampung lebih dari 30 mobil.

Gedung OSBOND Gym Cempaka Putih terdiri dari lima lantai. Lantai pertama diisi dengan front office, kantin serta tempat duduk untuk beristirahat. T entu saja karena ini pandemi, OSBOND Gym menerapkan protokol kesehatan.

Lantai ke-2 merupakan area untuk olahraga cardio. Jadi kamu akan menemukan treadmill, stepmill, fitness airbike, dan elliptical bike. Jumlahnya cukup banyak sehingga tak akan kehabisan alat kalau ke sini.

Sementara itu di lantai 3 ada area body building dan hardcore yang tentu saja diisi dengan peralatan angkat beban dengan berbagai bentuk dan model. Yang aku lihat, bukan hanya laki-laki yang melatih bentuk badannya di sini, perempuan juga ada, loh.

Naik ke lantai 4, ada area spinning. Kamu bisa berolahraga dengan menggunakan airbike atau static/cycling bike di sini. Di lanta 5, ada ruangan untuk kelas tertentu seperti yoga, dancing, atau aerobic.

Peralatan di OSBOND Gym termasuk canggih dan mudah digunakan, loh. Baik pemula maupun gym addict pasti senang berolahraga di sini.

  • Program yang lengkap

Fasilitas yang lengkap tidak cukup bila tidak disertai program yang lengkap juga. Untuk pemula bagiku, program olahraga yang tepat sangat membantu untuk tahu kelas atau fasilitas mana yang cocok untukku.

OSBOND Gym punya personal trainer professional dan berpengalaman yang siap membantu kamu menjalani program kebugaran yang kamu butuhkan. Di sini, kamu juga bisa mendapat informasi mengenai asupan bergizi dan supplemen yang cocok bagi tubuh.

Selain itu, kelas-kelas di OSBOND Gym sangat beragam, seperti kelas body pump, RPM, body combat, yoga, dan kelas zumba. Jadwalnya bisa kamu sesuaikan juga, ya. Kelas-kelas ini sangat cocok untuk kamu yang suka Latihan bersama kelompok, seperti aku. Kalau ramai-ramai tuh jadinya makin semangat berolahraga.

Jadwal kelas
  • Kebersihan tempat dan peralatan

Ini jadi nilai tambah yang sangat penting ketika datang ke tempat gym. Menurut observasiku, OSBOND Gym Cempaka Putih tergolong bersih. Ada petugas khusus yang memastikan kebersihan tempat dan peralatan. Tentu saja ini harus diperhatikan karena kebersihan juga bagian penting dalam menjalani gaya hidup sehat.

Loker dan kamar mandi perempuan ada di Lt. 4
  • Biaya yang terjangkau

Kamu sudah tahu nih OSBOND Gym punya fasilitas dan program yang lengkap. Kamu juga mungkin sudah melirik gym ini untuk jadi tempat olahragamu karena lokasinya dekat rumah atau kantor. Pasti dong, kamu mau tahu berapa biaya untuk berlangganan di gymnastic ini.

Di OSBOND, kamu gak perlu bayar terlalu mahal untuk bugar. Untuk jadi pelanggan OSBOND Gym, kamu hanya perlu membayar Rp 5 juta-an per tahun. Sekarang lagi ada promo pun. Dengan memberikan kode CLOZETTE X OSBOND GYM, kamu akan mendapatkan diskon 20% sehingga cuma membayar biaya Rp 4 juta-an per tahun. Cek juga Instagram @osbondgym untuk promo atau penawaran lain.

Kalau sudah berlangganan, kamu bebas datang ke lokasi OSBOND Gym mana saja dan berkali-kali dalam sehari. Cocok banget untuk kamu yang memang bertekad untuk lebih sehat dan bugar nih.

Itu dia lima alasan yang menurutku bikin OSBOND Gym tepat untuk jadi tempat berolahraga buat kamu. Kalau sudah daftar, kita janjian olahraga bareng, yuk. ^^

Yuk! Dateng ke OSBOND Gym cabang manapun, lalu kasih kode Osbond X Clozette. Kamu bisa nge-gym gratis selama 3 hari. Info lebih lanjutnya bisa hubungi 0817817058.

Follow Instagram @clozetteid dan @osbondgym untuk mendapatkan info menarik seputar gaya hidup dan kebugaran

Jeju Trip (4) : Dilempar ke Korea Masa Lalu di Jeju Folk Village

Apa yang kalian bayangkan mengenai sebuah musem? Biasanya museum merupakan sebuah gedung yang isinya pajangan barang-barang bersejarah. Beberapa tahun belakangan, museum dilengkapi oleh tampilan digital untuk menarik perhatian pengunjung.

Nah, Jeju Island punya semacam museum yang beda dari yang lainnya, yakni Jeju Folk Village. Seperti namanya, kamu seperti memasuki sebuah desa ketika melewati gerbang depan Jeju Folk Village. Tapi tentu saja desa ini merupakan desa buatan yang sengaja menampilkan kehidupan Korea Selatan di masa lampau. Tidak ada manusia yang benar-benar tinggal di Jeju Folk Village. Konon, kalau mau melihat masyarakat Korsel tinggal di kampung tradisional, kamu bisa mengunjungi Seongeup Folk Village.

Namun, kami memutuskan melewati hari ketiga di Jeju dengan mengunjungi Jeju Folk Village di Pyoseon. Kami menggunakan aplikasi Naver Map untuk bepergian di Jeju Island. Kami hanya perlu memasukkan nama tempat yang ingin kamu tuju, dan aplikasi akan menunjukkan nomor bus, rute, waktu tunggu, dan waktu perjalanan menuju tempat tersebut.

Matahari sudah berada di atas kepala ketika kami turun dari bus. Kami harus berjalan sekitar satu kilometer dari halte menuju Jeju Folk Village. Kami sempat berhenti di pertengahan trip karena ada public playground yang membuat bocah sangat excited untuk mencobanya.

Setelah itu, kami lanjutkan perjalanan mengikuti plang dan petunjuk jalan yang cukup jelas hingga akhirnya sampai di pintu depan Jeju Folk Village. Kami harus membayar KRW 22.000 untuk tiket masuk dua orang dewasa, sementara anak kecil tidak dipungut biaya masuk.

My Men

Oh iya, kalau kamu penggemar drama Korea Jewel in the Palace, ini jadi tempat wajib yang harus kamu kunjungi ketika ada di Jeju Island. Soalnya, Jeju Folk Village merupakan lokasi syuting drakor tersebut. Bahkan ada spot beberapa adegan yang diabadikan untuk mengenang syuting drakor tersebut.

Menurutku, lokasi ini sangat luas. Jadi luangkan waktu sekitar dua jam untuk mengelilingi Jeju Folk Village. Pasalnya, ada sekitar 100 rumah di dalam kampung tradisional ini. Kalau dikunjungi satu per satu, tentu memakan waktu. Tapi dijamin kamu akan puas mengenal lebih dalam budaya dan sejarah Korea Selatan, khususnya Jeju Island. Kalau mengajak anak kecil ke sini, menurutku stroller akan sangat memudahkan supaya bocah gak minta gendong terus atau lelah berjalan.

Jeju Folk Village dibagi menjadi beberapa perkampungan, seperti fishing village, mountain village, hill-country village, dan lainnya. Kamu pasti merasakan perbedaan yang cukup mencolok di antara perkampungan tersebut. Tapi secara garis besar, ada persamaan, seperti bangunan rumah yang pendek dan tidak terlalu luas.

Kamu bisa melihat bagaimana rumah tradisional, hewan-hewan, furniture, bahkan alat-alat lain yang digunakan sehari-hari oleh masyarakat sekitar ketika tahun 1890-an atau ketika Dinasti Joseon berkuasa. Setelah mengunjungi tempat ini, kamu pasti mendapat gambaran bagaimana orang Korea Selatan zaman dulu menjalani kesehariannya. Tapi perhatikan ya, banyak properti museum yang tidak boleh dipegang. Bahkan beberapa rumah atau bangunan tidak boleh dimasuki. Jadi kita hanya lihat dari luar saja.

Menurutku, banyak hal yang bisa dipelajari dan dinikmati dengan mengunjungi Jeju Folk Village. Selain mengenal budaya dan kehidupan masyarakat Korsel di abad 1900-an, setelah datang ke perkampungan ini, aku belajar mengenai seni, kebiasaan, arsitektural, dan banyak hal tentang Korea Selatan.

Di dalam lokasi Jeju Folk Village, ada juga spot khusus untuk bermain. Tapi karena ini adalah museum, tentu saja mainan yang disediakan adalah mainan tradisional, seperti engklek dan egrang. Kita bisa bermain dengan pengunjung lain di area ini. Di dekat area bermain, ada maze atau labirin dengan rumpun pohon mawar yang cukp menarik untuk dilewati, asal jangan tersesat. Hehee.

Ada juga spot yang menurutku cukup horror, yaitu perkampungan keagamaan. Ketika memasuki perkampungan ini, kamu bisa lihat pohon-pohon digantungi lembar-lembar doa berwarna-warni. Penampakan ini pernah aku tonton di film horror Korea, jadi menurutku agak spooky walaupun tentu tidak ada kejadian aneh apapun ketika aku memasuki perkampungan keagamaan ini.

Semua bangunan dan alat yang ada di Jeju Folk Village dibuat sangat detail, seperti benar-benar digunakan oleh orang zaman dahulu. Kamu bahkan bisa menemukan panci bekas masak atau kendang sapi atau keledai yang penuh jerami. Ada juga loh replica penjara di kampung ini.

Hal menarik lainnya dari Jeju Folk Village adalah tempat ini dipenuhi tanaman dan bunga-bunga. Aku juga melihat seekor kuda yang ditarik mengelilingi tempat, dan bisa dinaiki oleh pengunjung yang mau membayar.

Jadi walaupun matahari sangat terik kala itu (kami mengunjungi Jeju saat musim panas), kami sangat bersemangat karena Jeju Folk Village benar-benar museum yang unik dan tidak ada di negara lain.

Selain mengintip kehidupan Korea Selatan di zaman dahulu, kami punya misi lain mengunjungi Jeju Folk Village, yaitu berfoto dengan hanbok, yaitu pakaian tradisional Korea Selatan. Kami menemukan tempat penyewaan hanbok tepat di tengah folk village. Ada toko kecil berisi banyak pakaian tradisional Korea.

Ketika kami masuk, ada seorang perempuan dan anaknya di dalam. Dengan Bahasa Inggris yang terbatas, kami bertanya-tanya mengenai prosedur dan tarif menyewa hanbok. Kalau tidak salah ingat, eonnie itu menawarkan jasa menyewa hanbok sebesar KRW 20.000 – KRW 70.000 per orang. Kisaran tarif ini memang agak luas karena hanbok yang tersedia ada yang hanbok biasa dan hanbok premium yang biasa dipakai pihak Kerajaan.

Kami diberikan diskon sehingga bisa membayar KRW 20.000 per orang dan diskon untuk pakaian anak-anak. Sebenarnya, kami bisa memakai hanbok untuk mengelilingi lokasi Jeju Folk Village. Tapi karena harganya lebih mahal, kami memilih berfoto-foto di dekat area penyewaaan yang memang sudah di-setting untuk tempat berfoto. Lagipula, rasanya kurang nyaman bagi kami yang tidak terbiasa memakai pakaian tradisional untuk mengelilingi lokasi dengan hanbok.

Berikut foto-foto keluarga kami saat memakai hanbok:

Setelah sesi foto memakai hanbok, kami sudah terlalu Lelah dan memutuskan untuk pulang ke hotel. Perjalanan pulang naik bus sekitar 1,5 jam. Selanjutnya kami hanya mengunjungi Soegwipo Ollie Market sebentar untuk makan malam dan beristirahat.

Perjalanan kami besok juga tidak kalau seru, loh. Baca terus ya, seri Jeju Trip ini sampai habis. 🙂